Keinginan Yang Belum Terwujud




Salam Ceria Semua...


Bulan Desember hampir habis, sekolah sudah mulai libur dan sebentar lagi pekerja juga libur, seru ya bun kalau libur hehehe. Saat libur banyak keponakan yang nginep di rumah, Dirga ada temannya, kalau sudah ada temannya bunda nya yang dilupakan hihi. 

Saat mereka asik bermain saya didapur memasak atau membuat kudapan untuk mereka. Biasanya saya sendirian begini, memori masa lalu suka hadir dan tiba tiba muncul. Seringnya sih tentang keinginan keinginan diri yang belum tercapai, ya...memang apa yang saya inginkan tidak selalu harus tercapai, tapi sedih saat mengingat hehehe, banyak faktor yang membuat keinginan itu tidak atau belum tercapai. 

Bisa karena belum memiliki rejeki, belum ada kesempatan, atau saya tidak memiliki kemampuan, kalau saya berpikir memang Allah belum mengijinkan sehingga keinginan saya itu belum tercapai. 
Apa saya ya keinginan saya yang belum tercapai 

Belum Membahagiakan Bapak

Saya bukan terlahir dari keluarga mampu, Emak dan Bapak adalah orangtua terbaik dan tangguh menurut Saya. Emak berjualan blanjan dan Bapak penjual gorengan dari mata pencaharian ini beliau menghidupi anaknya, walau anak anak bapak usia SMP sudah mulai sekolah sambil berjualan, Emak dan Bapak ingin anaknya berjuang. 

Walau tidak termasuk dalam daftar list keluarga kaya, Emak dan Bapak mempunyai standar kebahagiaan sendiri. Ukuran kebahagiaan setiap orangtua berbeda Emak dan Bapak merasa bahagia kalau mempunyai anak yang menghargai orangtua, mandiri, jujur, patuh, menurut, rajin belajar, sopan dan menghargai orang lain, itu sudah cukup. Tidak perlu banyak uang kalau nantinya bisa melupakan orangtua. Lebih baik sederhana namun bisa menghargai orangtua. Emak dan Bapak memang luar biasa.

Seiring berjalannya waktu saya berpikir bahwa itu saja tidak cukup untuk membuat Bapak bahagia, saya belum bisa memberikan materi untuk orangtua, belum bisa mengajak jalan jalan, belum bisa memberikan ini itu. 

Namun apa daya karena saya belum bekerja, saya masih kuliah kadang saya bekerja paruh waktu menjadi petugas catering, memberikan les tambahan untuk mencukupi kebutuhan kuliah saya seperti membeli buku, transpotasi ke kampus karena saya naik angkot saat kuliah. Ketika saya memiliki uang lebih, dan ingin memberikan kepada  Bapak, Beliau selalu mengatakan "wes duite disimpen kanggo kebutuhanmu wae, kuliah seng pinter ben ndang lulus". 
Bapak menderita kanker paru paru cukup lama, saat saya masuk kuliah 1999 kesehatan bapak mulai mengalami penurunan, dan saya  meminta bapak untuk berhenti merokok.



Bapak (Kaos Putih) Master Catur Tingkat Kampung
Foto : Koleksi Pribadi


Bapak meninggal karena kanker paru paru saat saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bulan Februari tahun 2003, baru seminggu mulai KKN di Temanggung ditelpon kakak, memberi kabar kalau bapak diobname.  Keesokan harinya saya langsung pulang ke Semarang menggunakan  bus umum, sampai Semarang langsung menuju rumah sakit untuk bertemu bapak. Saya bilang ke Bapak kalau ingin menemaninya di rumah sakit tapi bapak menolak dan mengatakan bapak baik baik saja dan saya diminta kembali ke Temanggung untuk melanjutkan kegiatan KKN biar segera rampung kuliah nya . 

Hari berikutnya saya kembali ke Temanggung, aslinya ingin banget di Semarang menemani bapak, saat berangkat saya merasa kurang bersemangat, dari Semarang siang saya sampai Temanggung jam 16.30 WIB. Di Gemawang itu tidak ada sinyal, jika ingin mendapatkan sinyal harus naik ke daerah lebih tinggi atau menggantungkan HP di jendela. Tengah malam saya iseng melihat HP yang masih jadul, tidak secanggih sekarang. Ternyata ada Ada SMS masuk dari temen saya, segera saya buka isinya "Innalillahiwainnailaihirojiun ikut berbela sungkawa ya rin atas meninggalnya bapak"

Langsung nangis dan berpikir bagaimana cara pulang menuju Semarang, teman teman dan bapak ibu yang ada di posko mengatakan besok saja ke Semarang sudah malam, saya tidak mau dan tetap menangis. Saat saya menangis ada suara mobil berhenti di depan ternyata kakak sepupu saya menjemput dan saya langsung bergegas menuju mobil. Kakak Sepupu mengatakan "Bapake mau ora ono  jam setengah limo sore, yoo mungkin nylimurke kowe rin" saya berpikir berarti bapak meninggal jamnya persis ketika saya sampai Temanggung.  Akhirnya Sampai semarang jam 8 pagi, sudah tidak mampu saya membendung air mata. melihat Emak pun saya gak sanggup.

Tahun 2004 saya wisuda, gelo saat bapak mengidam idamkan saya lulus, pakai toga, menyandang sarjana, tetapi yang ngebet ingin melihat tidak diijinkan Allah untuk menjadi saksi kebahagiaan saya.
Saya merasa belum bisa membahagiakan bapak, walau bapak merasa saya adalah anak yang paling baik, paling menurut  dan paling di sayang. Diantara ke-8 anak bapak, sayalah satu satunya yang tidak pernah dimarai bapak, kata bapak weton kami sama jadi selalu sehati hehehe.


Acara Wisuda Bersama Emak, Pasca Stroke
Foto : Koleksi Pribadi

 

Belum Membahagiakan Emak

Nah...Emak Itu cinta sejatinya bapak, ke mana mana selalu berdua. Dilan Milea jaman old,  Setelah 3 hari Bapak meninggal saya kembali lagi melanjutkan KKN, saya terus fokus agar cepat lulus seperti keinginan bapak. Saya kuliah dibiayai oleh kakak sulung saya, saya tinggal di rumah kakak untuk mengurus anak anaknya yang masih kecil.


Emak dan Bapak
Foto : Koleksi Pribadi


Saya sering bolak balik  ke rumah dan kembali ke rumah kakak, saat saya memasuki tahap skripsi saya hampir jarang pulang ke rumah karena di rumah tidak ada fasilitas untuk mengerjakan skripsi, sehingga saya di rumah kakak untuk mengerjakannya. 

Di rumah, Emak tinggal bersama kakak dan adik, Emak mengisi hari harinya dengan berjualan, untuk sedikit melupakan kenangan bersama bapak. Saya terus fokus mengerjakan skripsi dan mengatakan kepada Emak kalau saya akan seperti bang Toyip yang jarang pulang. Emak mengatakan "Ora popo seng penting kuliah mu ndang bar", saya pun merasa memiliki suntikan semangat dan bersiap fokus mengerjakan skripsi. 

Saat hendak fokus mengerjakan skripsi takdir berkata lain, Bulan November di tahun yang sama, Emak terkena serangan stroke, kata dokter stroke Emak karena sakit jantung yang dialami Emak, pendarahan sampai orak dan alhamdulillah kami cepat membawa Emak ke rumah sakit, kata dokter jika terlambat, kemungkinan besar Emak tidak bisa tertolong. Sebagian tubuh Emak bagian kanan tidak bisa bergerak, hanya sebagian kiri yang bisa digerakkan. 

Mental saya down, saya merasa ini adalah akhir perjalanan kuliah saya dan saya berpikir tidak akan pernah bisa wisuda. Saya tidak akan melanjutkan kuliah lagi karena harus fokus merawat Emak, pupus harapan saya untuk menyandang status Sarjana Psikologi seperti yang bapak inginkan.

Saat saya merasa tidak memiliki kekuatan Allah mempertemukan saya dengan "Someone Special", walau masih sama sama belum selesai sekolah, namun paling tidak saya memiliki tempat partner berjuang untuk mewujudkan keinginan Bapak. Mengapa saya menyebut "Someone Special", karena hubungan kami belum mendapatkan lampu hijau dari kelurga saya.

Saat saya menggu Emak di rumah sakit saya bertanya dengan diri sendiri "Aaahh..masa perjuangan ku hanya segini saja, masa aku tidak memiliki cadangan semangat untuk meraih masa depan, masa seorang yang suka dengan tantangan dan kerja keras akhirnya menyerah, ahhh tidak mungkin, saya harus bisa menaklukan impian Bapak yang tinggal selangkah lagi".

Sayapun bertekad mengobarkan semangat yang saya miliki, saya tidak ingin mengecewakan kakak yang sudah membiayai kuliah saya. Saya tidak ingin membuat Bapak sedih di Surga, saya tidak ingin membuat Emak yang sedang sakit menjadi terluka, saya tidak ingin mengecewakan kakak dan adik yang selama ini selalu mensupport saya. 

Saya mulai mengerjakan skripsi dari Bab ke Bab, Bab 1 sampai Bab 3 saya kerjakan di rumah sakit sambil menunggu Emak dirawat, saya menulis dikertas jika ada kakak atau adik yang bisa bergantian jaga saya kembali ke rumah kakak untuk mengetik hasil tulisan saya dikomputer. 

Alhamdulillah saya mampunyai dosen pembimbing yang sangat baik, saya diberikan kesempatan konsultasi lebih banyak dari teman teman yang lain, saat saya hampir menyerah beliau beliau yang selalu memberikan semangat.

Memasuki Bab IV saya mulai penelian, saya menggunakan metode penelitian eksperimen, metode jarang diminati oleh teman teman seangkatan saya, karena dianggap ribet dan membutuhkan biaya yang banyak.

Bersama Bu Novi 
Dosen Pembimbing Skripsi 
Foto : Koleksi Pribadi


Akhirnya saya mampu menyelesaikan skripsi saya selama satu semester. Akhirnya saya harus menguji hasil penelitian ilmiah saya disidang skripsi. Saat sidang saya hanya ditemani  sahabat sahabat saya dan "Someone Special" saya.  Saya mampu menjawab semua pertenyaan dosen penguji dengan lancar. Diakhir sidang dosen pembimbing saya menanyakan tulisan yang saya tulis di lembar ucapan terima  kasih  "Iki maksude piye Ri..., seng siji terima kasih kepada-Nya, seng siji terima kasih kepada Yesus Kristus".


Ucapan Terima Kasih Untuk Emak dan Bapak di Skripsi
Foto : Koleksi Pribadi


Sontak saya menangis, karena saya teringat Almarhum Bapak saya dan saya teringat Emak saya yang sedang tergolek lemah karena stroke. Beliau memang berbeda keyakinan, hal ini yang membuat kami delapan bersaudara memiliki keyakinan yang berbeda beda. Dari perbedaan ini membuat kami saling bertoleransi.

Saat saya masih menangis, dosen penguji saya menyatakan saya lulus, entah karena hasil skripsi yang saya tulis baik, atau karena dosen penguji iba melihat perjuangan saya membuat skripsi, hehehe, saya tidak tahu, yang terpenting saya bersyukur bisa melewati proses skripsi yang selama ini menjadi momok mahasiswa.

Beberapa bulan pasca serangan stroke, kondisi Emak mulai membaik dan Emak sudah bisa makan sendiri, sudah bisa mulai berbicara meskipun belum jelas, kami delapan bersaudara berupaya terus untuk kesembuhan Emak. Saya yang merawat Emak karena kakak yang lain sudah berkeluarga, adik saya masih sekolah. Jadi saya jadi tumpuan kakak dan adik untuk merawat Emak.

Akhir Tahun 2005, teman saya meminta tolong saya untuk membantu biro psikologi yang dia kelola, saya masuk dan membantu di Divisi Sosial  yang jobdesk nya memberikan pengayaan tentang Psikologi kepada Ibu Ibu PKK, Pengajian atau lembaga sosial pendidikan lain serta mengadakan kegiatan sosial yang lain seperti bazar murah. Di Biro ini saya mulai mempunyai rasa kepercayaan diri.

Tahun 2006 saya masih dibiro ini, ada beberapa teman yang mulai keluar dan kadang saya diperbantukan di Divisi lain , sampai tahun 2007 saya memutuskan keluar dan kuliah lagi di Fakultas Dakwah , jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, kenapa S1 lagi? keterbatasan dana hehehe, tapi pada dasarnya saat itu saya ingin menjadi "Sarjana Psikologi Yang Pintar Berkomunikasi". 

Sampai detik ini, saya merasa belum bisa membahagiakan Emak, apalagi sejak kepergian Beliau tanggal 23 Desember 2015, saya merasa sedih...semoga tenang di Surga ya Emak, maafkan anak anak yang belum bisa membahagiakan Emak. Sebagai pengobat rindu saya menulis sebuah lagu untuk Emak.

Belum Bisa Melanjutkan S2 Psikologi

Saya memiliki ijazah S1 Psikologi, namun ijazah itu belum pernah terpakai untuk melamar pekerjaan, sebenarnya saya ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Walau Someone Special yang kini telah menjadi pendamping hidup memberikan ijin, namun saya merasa belum siap karena lebih memikirkan pendidikan Dirga. Sebagai ibu berpikir lebih baik di gunakan untuk kebutuhan pendidikan Dirga terlebih dahulu.  Semoga ada rejeki dan ada jalan.


Skripsi Sebagai Bukti Autentik
Keberhasilan Kuliah
Foto : Koleksi Pribadi



Itu Bunda, keinginan saya yang belum terwujud, kalau bunda ada keinginan yang belum terwujud jugakah? sharing ya bun...terima kasih sudah berkunjung.

Salam Kukuruyuk


You Might Also Like

7 komentar

  1. Wah,tepat hari ini mendak 3 th Emak ya bundir. Pasti mereka berdua sdh tersenyum bahagia disurga liat Bundir disini sll ceria.

    BalasHapus
  2. Hiks, aku jadi terbawa perasaan. Skrg ini banyak2 kirim doa buat beliau ya mbak

    BalasHapus
  3. Akupun merasa blm maksimal membahagiakan ortu bun, hiks. Pengen lbh sering lagi pulkam biar lebih sering membersamai mereka.

    BalasHapus
  4. Kirim doa yang banyak bun juga banyak berbuat baik insyaallah akan jadi bekal penyelamat ortu..peluk bunda dirgaaa... :*

    BalasHapus
  5. Saya belum maksimal membahagiakan kedua orangtua...malah sebelumnya gak kepikiran karena sejak kecil seringnya diasuh kakek nenek dan tante. Habis ortu cerai dan punya keluarga masing-masing...tapi sebagai anak tetap harus membahagiakan mereka....Thanks mb artikel ini sudah mengingatkan saya untuk terus membahagiakan keduaorangtua

    BalasHapus
  6. Insya Allah bapak dan emak sudah bahagia di sana ya mba, Al Fatihah..

    BalasHapus
  7. Doa Bundir yang bisa membahagiakan ortu

    BalasHapus